13tahun lebih belajar dari alam membuat saya menjadi pribadi yang berbeda sekarang. Mindset saya pun telah dirubah seiring dengan berjalannya waktu.
Sebagai seorang ibu muda, 31tahun, memiliki 2 anak dan insya Allah 1suami, saya harus ekstra hati-hati dalam mendidik dan membesarkan dua orang bidadari surga ini. Kenapa?
Semuanya berdasar kepada pengalaman masa lalu saya yang "kurang" menyenangkan. Untungnya saya memiliki suami yang seide dengan saya dalam mendidik anak kami. Anak-anak saya sejak umur 1bulan sudah saya tinggalkan bekerja. Mereka dirawat dan dijaga oleh seorang ibu yang sampe hari ini masih menyayangi mereka berdua. Bahkan suami si ibu pun melakukan hal yang sama. Alhamdulillah.
Saya tidak membatasi anak-anak seperti apa yang orang tua saya dulu lakukan. Mulai dari masalah makanan. Saya hanya menjaga tetapi tidak membatasi. Sejak kapan? Sejak mereka mulai dikenalkan dengan makanan padat, saya mengenalkan mereka dengan berbagai rasa dan senangnya, baik si kakak maupun si adek, sudah terbiasa dengan masakan pedas dan tidak takut pedas.
Lainnya, anak-anak tidak saya larang bermain diluar. Hanya dibatasi dan dipantau. Tetapi terkadang saya lepaskan betul semuanya. Dan dampaknya terasa sekali pada anak pertama saya yang berumur 4tahun3bulan sekarang, she's so sociable. Mo orang baru ato baru kenal, dia ramah dan tidak menunjukkan tanda-tanda ketakutan kalo bertemu dengan orang yang baru dikenal. Tetapi, saya tetap ajarkan dasar-dasar yang harus dia ketahui sedini mungkin. Saya kenalkan si kakak dengan bagian-bagian tubuhnya yang tidak boleh disentuh dan dipegang oleh lawan jenisnya. Dan dia buktikan kalo dia paham dengan apa yang saya sampaikan ketika waktu itu saya menjemputnya dari tempat si ibu dengan menggunakan ojek. Nah, ketika mo naik motor, reflek si tukang ojek mo pegangin dia biar ga jatoh, dan memang saat itu tangan si om ojek berada dekat bokong si kakak, eh si kakak lansung marah sambil tangannya pukulin tangannya si tukang ojek. Sambil ngoceh " ga boleh kan ma, no mimik, no momok, no bokong, no no no". Dia menatap saya seolah meminta persetujuan dari saya. Saat itu saya lansung mencium kening si kakak, anak bunda hebat, sambil saya jelasin ke tukang ojeknya kalo saya ngajarin ke si kakak beginian.
Anak-anak saya berada dilingkungan yang ramai masyarakatnya. Setiap harinya mereka bisa bertemu orang ato teman-teman yang berbeda karena rumah kami berada dipinggir jalan dan dekat dengan sebuah SD. Sehingga anak-anak saya menjadi anak-anak yang aktif, ceria, cepat tanggap dan cepat belajar. Nah untuk poin ini, semuanya karena teman-teman si kakak kebanyakan lebih tua dari usianya, jadi sudah pada sekolah. Sehingga ketika mereka belajar ato mengerjakan PR, si kakak ikutan nimbrung, efeknya pas sampai rumah si kakak selalu bertanya tentang apa yang sudah dilihat n didengarnya. Yah, dia berada di alam dan saya tidak akan mengurungnya dirumah.
Kebetulan suami saya 'agak' gila juga dalam mendidik anak. Pernah suatu ketika hari hujan dengan lebatnya, tanpa petir dan guruh tentunya, si papa ajakin anak-anak mandi hujan dihalaman depan rumah, termasuk ajakin anak kedua kami yang saat itu masih 13bulanan untuk mandi hujan. Dan anak-anak menikmati. Mereka berlarian kejar-kejaran, si kakak pun mengambil posisi telungkup layaknya berenang, nah si adek, asek dengan merangkaknya. Hati ini deg-degan, karena takut nanti mereka demam, flu ato batuk tapi kemudian saya sadar, hujan ini karunia bukan? Kenapa kita harus takut dan melarang anak-anak menikmatinya? Bayangkan bagaimana jari jemari mereka menikmati tetesan demi tetesan air hujan? Bagaimana nikmatnya mereka merasakan susahnya bernafas ditengah derasnya hujan? Hey ayah bunda, cuma alam yang bisa ajarkan mereka hal ini..
Jadi, ketika alam dengan tangan terbukanya menyediakan ratusan menit untuk mengajari mereka, kenapa kita harus sibuk memasukkan mereka les A, les b dll. Mari ayah bunda, kita ubah cara berpikir kita, dekati anak kita dengan alamnya, berikan mereka lingkungan yang penuh warna biar mereka belajar bagaimana bersikap ketika mainannya dipinjam tanpa ijin oleh temannya, bagaimana mereka merasakan sakit kakinya terluka karena berlarian, bagaimana mereka harus berbagi makanan kesukaannya dengan teman-temannya. Tiada tempat belajar yang lebih indah selain dari lingkungannya. Sekolah penting ayah bunda, tapi jangan porsir hari-hari mereka dengan mengikuti bejibun les sesudahnya.
Percayalah ayah bunda, mereka, anak-anak kita bisa hebat seiring perubahan cara pikir kita, biarkan mereka mendapatkan haknya, hak sebagai anak yang masih memerlukan banyak waktu untuk bermain sebelum akhirnya mereka siap untuk berada diruang kelas dan belajar hitung dan membaca, mendapatkan hak mereka untuk menjadi apa yang mereka inginkan dan bukan apa yang kita inginkan. Karena semua yang dipaksakan tidak akan indah hasilnya bukan???
Mari ayah bunda, kita ciptakan senyum diwajah mereka, kita berikan sinar bahagia dari pancaran bola mata surga mereka.. Mereka berhak atas semua itu. Yah.. Mereka yang paling berhak atas kehidupannya..
bersambung...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar