Sabtu, 20 Agustus 2016

Part1. Anak dan Alam.. Bisakah kita?

Entah kenapa, saya kembali tergerak untuk menulis lagi diblog ini. Setelah vakum untuk waktu yang sangat lama, malam ini saya ingin berbagi banyak hal kepada para orang tua yang mungkin baru hitungan hari, bulan, tahun menjadi orang tua.





Sedikit kisah dari saya, saya berasal dari keluarga yang menurut saya sangat kaku. Kenapa? Semua hal dirumah dulunya dilakukan sesuai dengan jadwal yang sudah diatur, tentunya oleh mereka yang kemudian saya kenali sebagai orang tua saya. Saya menyayangi mereka seperti mereka yang sangat menyayangi saya karena saya terlahir sebagai putri pertama dalam keluarga kecil mereka. Sebagai seorang anak yang kedua orang tuanya sibuk bekerja, saya merasa hari-hari saya dulunya tidak begitu menyenangkan. Kami jarang bepergian, setiap akhir pekan kami cuma diam dirumah. Sampai akhirnya dimasa dimana saya menyadari keluarga saya homelovers alias betah along day at home. Dulu saya sering sekali bertanya, kenapa kita tidak keluar jalan di akhir minggu? Tapi ya sudahlah, jawabannya pun tidak harus saya paparkan disini. Intinya saya dan keluarga tidak pernah bepergian. What a beautiful one😞


Dirumah selalu dibiasakan dengan kata "tidak" dan "jangan". Saya dan adik nomor dua, sering dilarang makan ini itu, dilarang kesana n kesitu, jangan ini itu dan larangan-larangan lain yang saya tidak pernah terima alasannya saat itu. Berkat larangan itu, saya memakan es krim produk Walls 'Feast' pertama kali dalam hidup saya ketika saya SMP. Lupa kelas berapanya... Sejak saat itu sampe sekarang tiap si abang penjual es walls ini lewat, selalu 'feast' yang menarik perhatian saya. Dan benar kata orang, kesan pertama begitu menggoda..selanjutnya terserah anda..wkwkwk


Dan banyak larangan lainnya yang tidak orang tua saya ijinkan untuk saya lakukan dulu sewaktu kecil. Kami tidak boleh makan cabe terlalu banyak karena 'takut' nanti sakit perut. Tidak boleh telat makan, harus sarapan dan minum susu, jam9 harus masuk kamar untuk segera tidur, tidak boleh kumpul2 bareng teman untuk pergi minum es tebak ato makan bakso dan sejenisnya (sering boong akhirnya). Sekolah diantar jemput, sehingga pulang sekolah selalu dirumah dan tidak kemana-mana.. Yah, begitulah saya dulu..
Pada akhirnya ketika saya melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan beda kota tentunya, saya merasa seolah-olah keluarga 'membuang' dan 'menjauhkan' saya dari mereka. Sampai saat ini saya masih ingat bagaimana kuatnya saya memeluk ayah saat itu karena saya tidak mau ditinggal dikosan saat itu. Saya masih ingat bagaimana saya menahan ayah untuk tidak membuka pintu mobil, bagaimana saya menangis didepan pagar sambil berpasang-pasang mata anak kosan lain menatap saya dari dalam rumah. Sampai akhirnya saya harus rela ditinggal mereka dan sampai hari ini saya masih tinggal dikota ini. Karena tidak dibiasakan berpisah dari orang tua, tidak dibiasakan dengan kegiatan2 dapur yang perempuan harus lakukan, sehingga memasak air pun saya bisa hangus..hahaha
Terbiasa setiap makan harus diatas meja, sementara dikosan tidak ada meja makan,alhasil saya menggunakan meja belajar saya saat itu, yang ukuran 60x40cm sebagai meja makan. Saya menyusun semua menu dan perlengkapan makan sederhana saya seolah saya sedang berada dan makan dirumah. Benar-benar luar biasa beratnya 6 bulan pertama saya dikosan. Yah.. Saya belajar banyak hal dari lingkungan, rekan-rekan satu kosan. Banyak sekali pelajaran hidup yang mereka berikan. Saya akhirnya belajar bagaimana saya harus menghargai rupiah demi rupiah yang tiap bulan ayah saya berikan. Saya belajar bagaimana teman satu kosan bisa hidup perbulannya dengan 300-400rb, sementara saya 3x lipatnya diberikan. Bagaimana mereka sibuk memikirkan makanan apa yang akan mereka makan untuk malamnya, sementara saya selalu dikirimi makanan dari rumah. Yah, sekali lagi, alam ajarkan saya banyak hal.
Mungkin masa perguruan tinggi saya adalah masa yang belum terlalu terlambat bagi orang tua saya menyadari bahwa sudah waktunya bagi mereka untuk berbagi tugas dengan alam untuk mengajar saya dan untuk membiarkan alam mendidik saya dan terbebas dari segala kemanjaan yang mereka berikan.. Hari ini, saya suarakan, terima kasih alam karena telah menjadikan saya seorang anak,istri dan ibu seperti sekarang. Saya menjadi pribadi yang berani bersuara apabila saya tidak setuju dengan sesuatu, menjadi pribadi yang bertahan dan bertanggung jawab dengan apa yang saya ucapkan, menjadi pribadi yang berani memutuskan sesuatu, menjadi pribadi yang kuat dalam melewati ujian demi ujian berat yang Tuhan berikan dan kekuatan-kekuatan lain yang saya rasakan luar biasa pengaruhnya dalam diri saya. Inilah saya, anak yang lebih kurang 13tahun lalu berjuang dan belajar dari alam..


bersambung...

2 komentar:

  1. wahhh, udah lama yogen ngga buka blog teacher :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe.. Mari semangat menulis lagi gen.. Sbuk ma tugas sekolah ne ya?

      Hapus